TEKNOLOGI
INFORMASI DAN KOMUNIKASI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN
KUALITAS
PENDIDIKAN DI INDONESIA
Kala
itu, Jumat, 17 Agustus 1945 hari yang dinantikan masyarakat Indonesia tiba. Segenap
masyarakat memenuhi pelataran rumah Ir. Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur
Nomor 56 Jakarta untuk menunggu dibacakannya teks Proklamasi. Tak terasa, kini
sudah 72 tahun momen itu berlalu. Masih lekat dalam ingatan, kemerdekaan
berarti berkomitmen memajukan negeri dalam segala sendi kehidupan termasuk
Pendidikan. Sayangnya, salah satu cita – cita luhur kemerdekaan yakni
mencerdaskan kehidupan bangsa, dirasa masih jauh dari kata ideal. Masih banyak
anak Indonesia yang belum bisa mencicipi pendidikan dengan layak.
Mutu Pendidikan di Indonesia saat ini sungguh
mengkhawatirkan. Bahkan di tingkat Asia Tenggara saja kita termasuk terendah
dari 7 negara dan bahkan lebih rendah dari Malaysia juga Vietnam yang baru
beberapa tahun Merdeka. Menurut penelitian pada tahun 2005 Indonesia menempati
ranking 10 dari 14 negara berkembang di Asia Fasifik. Thailand yang dilanda
krisis justru menenpati ranking pertama kemudian disusul Malaysia, Sri Langka,
Filipina, Cina, Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Nepal, Papua
Nugini, Kep. Solomon, dan Pakistan. Indonesia mendapat nilai 42 dari 100 dan
memiliki rata-rata E. Untuk aspek penyediaan pendidikan dasar lengkap,
Indonesia mendapat nilai C dan menduduki peringkat ke 7. Pada aspek aksi
negara, RI memperoleh huruf mutu F pada peringkat ke 11. Sedangkan aspek
kualitas input/pengajar, RI diberi nilai E dan menduduki peringkat 14.
Ada beberapa aspek yang menyebabkan Indonesia
menurun kualitas Pendidikannya. Salah satunya adalah kurang berkembangnya
teknologi informasi dan komunikasi sehingga mengurangi daya saing dengan Negara
lain. Padahal, dalam dunia pendidikan,TIK merupakan suatu komponen yang tidak
dapat dipisahkan. Peran-peran TIK dalam dunia pendidikan antara lain sebagai
keterampilan (skill) dan kompetensi, sebagai infrastruktur pendidikan sebagai
sumber bahan ajar, sebagai alat bantu dan fasilitas pendidikan, sebagai sistem
pendukung keputusan.
Begitu juga dengan pendidikan di daerah terpencil.
Kurangnya sarana dan prasarana di daerah ini membuat siswa di sekolah merasa
sedikit dirugikan. Walaupun pendidik sudah menerapkan kemampuan terbaiknya
dalam mentransfer ilmu, tidak jarang beberapa mata pelajaran perlu adanya
teknologi dan fasilitas yang memadai agar ilmu tersebut terlihat penerapannya
bukan hanya terbayangkan oleh siswa semata dalam hal ini harus di praktikumkan,
sedangkan untuk praktikum dibutuhkan berbagai alat dan labortorium, sayangnya
hal ini lah yang belum terpenuhi secara menyeluruh di sekolah SMA saya.
Keterlambatan informasi dan kurangnya komunikasi di daerah ini juga membuat semakin
sulitnya mengembangkan dan menyesuaikan dengan daerah pusat. Misalnya saja,
ketika simulasi dalam rangka menghadapi Ujian Nasional, di beberapa daerah
khususnya daerah saya, dikarenakan ketersediaan listrik yang tidak selalu
setiap hari, maka sekolah tersebut harus menggunakan bantuan diesel demi
kelancaran kegiatannya. Hal ini tentu berdampak pada kenyamanan siswa dalam
melaksanakan ujian, yang seharusnya dapat di laksanakan dengan tenang.
Namun, hal – hal diatas dapat diatasi antara lain
dengan cara meningkatkan komunikasi dan kerjasama antar siswa dan guru. Dengan
memanfaatkan bahan yang ada di daerah terpencil, guru dan siswa dapat mengambil
kesempatan menggali ilmu yang lebih dengan membuat suatu alat sederhana yang
akan digunakan dalam kegiatan pembelajarannya. Jadi, siswa tidak hanya mendapat
asupan dari guru semata, tetapi juga dapat mengembangkan kemampuannya sesuai
dengan bimbngan gurunya. Selain itu, mahasiswa - mahasiswa yang ada di daerah
tersebut, dengan berbekal ilmu yang dimiliki, memungkinkan adanya peluang untuk
menciptakan teknologi sederhana yang tentunya dapat bermanfaat bagi sekolah
tersebut.
Ada banyak bentuk pemanfaatan teknologi informasi
dan komunikasi di dunia pendidikan antara lain adalah pembelajaran berbasis
komputer. Saat ini, komputer bukan suatu barang yang langka. Bahkan, karena
penerapan Ujian Nasional yang berbasis komputer, di daerah saya pun telah
banyak yang menggunakannya. Untuk memanfaatkan teknologi komputer tersebut, dalam
konteks pembelajaran saat ini mulai banyak software yang berisi muatan – muatan
pelajaran yang dikenal dengan istilah “Computer
Assisted Instruction (CAI) ” atau “Pembelajaran dengan Bantuan (Media)
Komputer”. Istilah – istilah lainnya adalah Computer
Based Education (CBE), Computer Based
Training (CBT), dan Computer Based
Instruction (CBI).
Melihat berbagai tantangan dan tuntutan pembelajaran
pada saat sekarang, jelas bahwa teknologi komputer dapat dirancang dan
dimanfaatkan di dalam aktivitas pembelajaran. Pendekatan pembelajaran melalui
teknologi komputer ini dapat berbentuk antara lain bentuk belajar model, yaitu
siswa dapat beajar melalui latihan – latihan yang diulang – ulang sehingga siswa
dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan tertentu, misalnya untuk
pelajaran yang memerlukan praktikum dan keterampilan. Bentuk belajar lainnya
adalah bentuk simulasi, yaitu bentuk belajar peniruan kenyataan yang
diabstraksikan dan dapat dilihat secara nyata di layar monitor, misalnyapada
sesi permainan olahraga dan keterampilan. Bentuk yang lainnya adalah bentuk
belajar permainan, dimana siswa dilibatkan dalam operasi mental dalam bentuk
pemainan, misalnya pelajaran olahraga pemainan, sosio – drama, dan sosiologi.
Selanjutnya adalah bentuk belajar tutorial, yaitu bentuk belajar yang diberikan
dengan sistem modul, dalam hal ini komputer akan menampilkan informasi –
informasi yang perlu diketahui dan dipahami serta direspon oleh siswa. Bentuk
yang terakhir adalah bentuk pembelajaran jenis tes, dalam hal ini siswa
menyampaikan hal yang sudah dikuasai dan belum dikuasai untuk evaluasi pada
proses pembelajaran berikutnya.
Komponen penting yang terakhir adalah perlu adanya
kepekaan yang lebih dari pemerintah untuk dapat memperhatikan sekolah yang
berada di daerah terpencil agar pendidikan di Indonesia dapat merata dan dapat
berkembang sesuai dengan cita cita luhur kemerdekaan dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa serta dapat menumbuhkan daya saing dengan Negara lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar