Fisku~

fisika

fisika

Rabu, 25 April 2018

Hipotesis De Broglie


A.      Pengertian hipotesis Louis de Broglie

Hipotesis Louis de Broglie adalah gagasan tentang gelombang materi yang merupakan kesimetrisan atau penerapan yang lebih luas dari gagasan partikel cahaya yang dikemukakan oleh max plank- Einstein. Jika cahaya memiliki sifat partikel, maka partikel juga memiliki sifat gelombang.
Menurut hipotesis Louis de Broglie gerakan partikel mempunyai cirri- cirri gelombang. dari ciri – ciri tersebut dapat diketahu sifat gelombang dari partikel yang dinyatakan dalam persamaan:

λ = h/mv
Keterangan :    λ = panjang gelombang (m)
m = massa partikel (kg)
v = kecepatan partikel ( 3 x 108 m detik-1)
h = tetapan Plank (6,63 x 10-34j detik)

B.      Sifat cahaya menurut de broglie

Pada tahun 1924 Luis De Broglie mengemukakan bahwa sifat dualisme yang dimiliki cahaya juga dimiliki oleh partikel yang bermassa. Dalam artian partikel yang bermassa jaga memiliki sifat sebagaimana yang ditunjukkan oleh foton yaitu dapat bersifat sebagai gelombang dan sebagai partikel. Dualisme yang dikemukakan oleh De Broglie ini merupakan titik pangkal dari perkembangan mekanika kuantum.
De Broglie juga menyatakan bahwa pada setiap partikel yang berenergi E dan bergerak dengan momentum p selalu terdapat gelombang yang diasosiasikan dengannya yang disebut dengan gelombang De Broglie.
De Broglie ini ternyata terbukti dari eksperimen difraksi elektron oleh Davisson dan Germer di Amerika Serikat

.

 → Contoh Soal :          


Tentukan panjang gelombang elektron yang bergerak dengan kecepatan 5,97 x 106 m detik-1 , (massa elektron= 9,11 x 10-28 gram; tetapan Planck= h= 6,63 x 10-34 J detik)

Pembahasan
λ = h/mv=(6,63 x 10-34 J detik -1)/(9,11 x 10-31kg x 106 m detik-1) =1,21 x 10-10 m

Untuk lebih jelasnya, silahkan amati video berikut





di April 25, 2018 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Sabtu, 14 April 2018



TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN
KUALITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA
  
Kala itu, Jumat, 17 Agustus 1945 hari yang dinantikan masyarakat Indonesia tiba. Segenap masyarakat memenuhi pelataran rumah Ir. Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta untuk menunggu dibacakannya teks Proklamasi. Tak terasa, kini sudah 72 tahun momen itu berlalu. Masih lekat dalam ingatan, kemerdekaan berarti berkomitmen memajukan negeri dalam segala sendi kehidupan termasuk Pendidikan. Sayangnya, salah satu cita – cita luhur kemerdekaan yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, dirasa masih jauh dari kata ideal. Masih banyak anak Indonesia yang belum bisa mencicipi pendidikan dengan layak.
Mutu Pendidikan di Indonesia saat ini sungguh mengkhawatirkan. Bahkan di tingkat Asia Tenggara saja kita termasuk terendah dari 7 negara dan bahkan lebih rendah dari Malaysia juga Vietnam yang baru beberapa tahun Merdeka. Menurut penelitian pada tahun 2005 Indonesia menempati ranking 10 dari 14 negara berkembang di Asia Fasifik. Thailand yang dilanda krisis justru menenpati ranking pertama kemudian disusul Malaysia, Sri Langka, Filipina, Cina, Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Nepal, Papua Nugini, Kep. Solomon, dan Pakistan. Indonesia mendapat nilai 42 dari 100 dan memiliki rata-rata E. Untuk aspek penyediaan pendidikan dasar lengkap, Indonesia mendapat nilai C dan menduduki peringkat ke 7. Pada aspek aksi negara, RI memperoleh huruf mutu F pada peringkat ke 11. Sedangkan aspek kualitas input/pengajar, RI diberi nilai E dan menduduki peringkat 14.
Ada beberapa aspek yang menyebabkan Indonesia menurun kualitas Pendidikannya. Salah satunya adalah kurang berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi sehingga mengurangi daya saing dengan Negara lain. Padahal, dalam dunia pendidikan,TIK merupakan suatu komponen yang tidak dapat dipisahkan. Peran-peran TIK dalam dunia pendidikan antara lain sebagai keterampilan (skill) dan kompetensi, sebagai infrastruktur pendidikan sebagai sumber bahan ajar, sebagai alat bantu dan fasilitas pendidikan, sebagai sistem pendukung keputusan.
Begitu juga dengan pendidikan di daerah terpencil. Kurangnya sarana dan prasarana di daerah ini membuat siswa di sekolah merasa sedikit dirugikan. Walaupun pendidik sudah menerapkan kemampuan terbaiknya dalam mentransfer ilmu, tidak jarang beberapa mata pelajaran perlu adanya teknologi dan fasilitas yang memadai agar ilmu tersebut terlihat penerapannya bukan hanya terbayangkan oleh siswa semata dalam hal ini harus di praktikumkan, sedangkan untuk praktikum dibutuhkan berbagai alat dan labortorium, sayangnya hal ini lah yang belum terpenuhi secara menyeluruh di sekolah SMA saya. Keterlambatan informasi dan kurangnya komunikasi di daerah ini juga membuat semakin sulitnya mengembangkan dan menyesuaikan dengan daerah pusat. Misalnya saja, ketika simulasi dalam rangka menghadapi Ujian Nasional, di beberapa daerah khususnya daerah saya, dikarenakan ketersediaan listrik yang tidak selalu setiap hari, maka sekolah tersebut harus menggunakan bantuan diesel demi kelancaran kegiatannya. Hal ini tentu berdampak pada kenyamanan siswa dalam melaksanakan ujian, yang seharusnya dapat di laksanakan dengan tenang.
Namun, hal – hal diatas dapat diatasi antara lain dengan cara meningkatkan komunikasi dan kerjasama antar siswa dan guru. Dengan memanfaatkan bahan yang ada di daerah terpencil, guru dan siswa dapat mengambil kesempatan menggali ilmu yang lebih dengan membuat suatu alat sederhana yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajarannya. Jadi, siswa tidak hanya mendapat asupan dari guru semata, tetapi juga dapat mengembangkan kemampuannya sesuai dengan bimbngan gurunya. Selain itu, mahasiswa - mahasiswa yang ada di daerah tersebut, dengan berbekal ilmu yang dimiliki, memungkinkan adanya peluang untuk menciptakan teknologi sederhana yang tentunya dapat bermanfaat bagi sekolah tersebut.
Ada banyak bentuk pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di dunia pendidikan antara lain adalah pembelajaran berbasis komputer. Saat ini, komputer bukan suatu barang yang langka. Bahkan, karena penerapan Ujian Nasional yang berbasis komputer, di daerah saya pun telah banyak yang menggunakannya. Untuk memanfaatkan teknologi komputer tersebut, dalam konteks pembelajaran saat ini mulai banyak software yang berisi muatan – muatan pelajaran yang dikenal dengan istilah “Computer Assisted Instruction (CAI) ” atau “Pembelajaran dengan Bantuan (Media) Komputer”. Istilah – istilah lainnya adalah Computer Based Education (CBE), Computer Based Training (CBT), dan Computer Based Instruction (CBI).
Melihat berbagai tantangan dan tuntutan pembelajaran pada saat sekarang, jelas bahwa teknologi komputer dapat dirancang dan dimanfaatkan di dalam aktivitas pembelajaran. Pendekatan pembelajaran melalui teknologi komputer ini dapat berbentuk antara lain bentuk belajar model, yaitu siswa dapat beajar melalui latihan – latihan yang diulang – ulang sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan tertentu, misalnya untuk pelajaran yang memerlukan praktikum dan keterampilan. Bentuk belajar lainnya adalah bentuk simulasi, yaitu bentuk belajar peniruan kenyataan yang diabstraksikan dan dapat dilihat secara nyata di layar monitor, misalnyapada sesi permainan olahraga dan keterampilan. Bentuk yang lainnya adalah bentuk belajar permainan, dimana siswa dilibatkan dalam operasi mental dalam bentuk pemainan, misalnya pelajaran olahraga pemainan, sosio – drama, dan sosiologi. Selanjutnya adalah bentuk belajar tutorial, yaitu bentuk belajar yang diberikan dengan sistem modul, dalam hal ini komputer akan menampilkan informasi – informasi yang perlu diketahui dan dipahami serta direspon oleh siswa. Bentuk yang terakhir adalah bentuk pembelajaran jenis tes, dalam hal ini siswa menyampaikan hal yang sudah dikuasai dan belum dikuasai untuk evaluasi pada proses pembelajaran berikutnya.
Komponen penting yang terakhir adalah perlu adanya kepekaan yang lebih dari pemerintah untuk dapat memperhatikan sekolah yang berada di daerah terpencil agar pendidikan di Indonesia dapat merata dan dapat berkembang sesuai dengan cita cita luhur kemerdekaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta dapat menumbuhkan daya saing dengan Negara lain.
                                                                              




di April 14, 2018 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Postingan Lebih Baru Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Hipotesis De Broglie

A.       Pengertian hipotesis Louis de Broglie Hipotesis Louis de Broglie adalah gagasan tentang gelombang materi yang merupakan kesi...

  • Hipotesis De Broglie
    A.       Pengertian hipotesis Louis de Broglie Hipotesis Louis de Broglie adalah gagasan tentang gelombang materi yang merupakan kesi...

Cari Blog Ini

  • Beranda

Mengenai Saya

Nafila
Lihat profil lengkapku

Instagram

Forgot?
Don't have an account?Sign up
by coding market

Laporkan Penyalahgunaan

Arsip Blog

  • April 2018 (2)
Tema Kelembutan. Diberdayakan oleh Blogger.